Anjloknya Harga Minyak Dunia di Masa Pandemi

energywatch.co.id – Virus Corona dan segala dampaknya telah pula menghantam sektor migas terutama minyak dunia. Berkurangnya kebutuhan BBM menyebabkan overload kapasitas dari minyak mentah. Ditambah dengan perseteruan lama antara Arab Saudi, Rusia dan Amerika Serikat terkait kelebihan produksi ini membuat harga minyak mentah makin terjun bebas.

Untuk melawan Rusia yang tidak setuju menurunkan produksi minyak di tengah turunnya permintaan karena wabah, membuat Arab Saudi meradang. Dan dibalas dengan produksi yang terus ditambah. Sehingga over produksi makin membesar dan harga minyak makin anjlok di pasar dunia.

  1. Penetapan Harga Minyak

Harga minyak mentah ditetapkan sesuai permintaan dan penawaran di pasaran dunia. Sehingga sangat terpengaruh dengan kondisi politik. Wabah Corona yang menyebabkan terhentinya aktivitas manusia di seluruh dunia sehingga kebutuhan BBM menurun, otomatis menurunkan harga pasar minyak dunia. Berkurangnya permintaan ini disebabkan turunnya order dari perusahaan dan maskapai yang tidak beroperasi serta konsumsi rumah tangga yang menurun akibat aturan berada di rumah dari pemerintah masing-masing.

harga minyak dunia turun

Kondisi ini menyebabkan kontrak-kontrak minyak yang ada direvisi ulang oleh pemilik kontrak. Kontrak jangka panjang ini sudah tidak valid dengan harga yang berlaku sekarang. Ditambah ketidakpastian ujung dari wabah. Namun, karena sifatnya yang jangka panjang, maka pada saat jatuh tempo, pengirim akan tetap mengirimkan minyaknya kepada pembeli sesuai surat kontrak.

Sedangkan kondisi penampungan minyak pembeli sudah tidak bisa menampung minyak mentah baru. Dan kontrak-kontrak ini diperjualbelikan di hari-hari terakhir jatuh tempo. Kondisi ini membuat harga minyak menjadi anjlok karena banyaknya kontrak yang diperjualbelikan. Bahkan para penjual minyak memberikan penawaran uang agar ada yang mau membeli kontrak tersebut sehingga minyak tetap keluar dari penjual.

  1. Harga Minyak Menyentuh Minus

Dengan overloadnya minyak mentah, membuat daya tampung sudah maksimal dan biaya penampungan menjadi beban tersendiri. Sehingga para pemilik minyak berusaha mengeluarkan cadangan minyaknya dari tempat penampungan guna menekan biaya ini.

Baca Juga : Begini Cara Mendapatkan Listrik Gratis di Masa Pandemi

  1. Produksi Minyak Tidak Bisa Dihentikan

Sumur-sumur bor yang produktif kondisinya akan selalu mengalirkan minyak hingga sumbernya menjadi kering. Sehingga upaya menutup sumur bor akan membutuhkan biaya besar sama besarnya dengan biaya mencari sumur minyak baru.

kilang minyak

Dan solusinya adalah dengan mengurangi kapasitas produksi. Sisa minyak yang tidak tertampung untuk sementara ditampung di kapal-kapal tanker sebagai fasilitas penyimpanan terapung.

  1. Harga BBM Menjadi Nol

Tidak mungkin terjadi. Walaupun harga minyak mentah sebagai bahan bakar bisa mencapai minus, namun untuk pengolahan menjadi BBM dibutuhkan biaya yang cukup besar. Sehingga harga BBM hanya diturunkan hingga mencapai 30 – 50 persen dari harga normal yang berbeda di masing-masing negara.

  1. Kondisi Perusahaan dan Bisnis Minyak

Saat ini, BBM menjadi produk yang kurang dibutuhkan oleh masyarakat. Tidak seperti di masa jayanya di mana BBM merupakan primadona dan penghasil devisa terbesar bagi negara-negara penghasil minyak. Kondisi lockdown dan wabah yang belum bisa diprediksi masa berakhirnya membuat perusahaan minyak mulai berhitung dan menyusun ulang kebijakannya.

Elnusa, salah satu perusahaan migas di Indonesia pun menyesuaikan rencana kerjanya terkait pandemi dan dropnya harga minyak. Jika harga masih di level $28, perusahaan migas masih bisa bertahan dan tetap tumbuh. Namun, akan lain ceritanya jika harga minyak terus turun hingga sempat negatif atau di bawah $0 per barel. Sebuah kondisi yang tidak pernah terbayangkan sejak minyak ditemukan.

kondisi perusahaan dan bisnis minyak

Salah satu cara Elnusa untuk tetap bertahan adalah dengan melakukan diversifikasi portofolio dan beberapa strategi lainnya. Untuk memastikan arus kas tetap aman, Elnusa melakukan strategi supply chain financing (SCF) atau sharing the pain dengan mitra kerjanya sejak tahun lalu. Strategi ini terbukti efektif menyeimbangkan account payables dan account receivables.

Strategi sharing the pain adalah meminta mitra untuk melakukan penyesuaian harga barang dan jasa. Sehingga kedua belah pihak sama-sama dapat bertahan melewati masa pandemi ini. Dengan memiliki portofolio beragam dan lini bisnis yang lengkap, Elnusa tetap optimis perusahaan bisa tetap dalam keadaan positif.

Kondisi penurunan harga minyak mentah yang pernah dialami di saat krisis keuangan di tahun 2008 – 2009 sangat jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Pada saat itu, meski dengan harga minyak yang anjlok, industri migas masih bisa mengalihkan produksinya ke sektor yang tidak terkena dampak krisis. Salah satunya adalah jasa konstruksi.

Saat ini bukan hanya penurunan harga yang dialami oleh industri migas, karena virus corona berdampak hampir ke semua sektor. Sehingga sulit untuk melakukan pengalihan bisnis. Efisiensi gaji hingga ancaman PHK bisa saja terjadi jika wabah ini masih berlangsung lama.

  1. Kenaikan Kembali Harga Minyak Mentah

Setelah penurunan drastis dari harga minyak mentah selama 2 bulan terakhir hingga mencapai harga minus, ada angin segar dengan naiknya harga dalam lima hari terakhir. Hal ini dipicu dengan pembukaan kembali ekonomi di beberapa negara yang telah mengalami penurunan kasus Corona. Kenaikan harga ini juga akan dibarengi dengan mengurangi jumlah produksi sehingga harga minyak mentah dapat berada di posisi wajar.

Kondisi harga minyak mentah bisa dikatakan dalam kondisi tidak stabil. Hal ini disebabkan infeksi virus Corona masih tinggi dan menjadi bahan penelitian ilmuwan sehingga dikhawatirkan gelombang kedua penyebaran mungkin saja terjadi.

 

Share

You may also like...