Kamis, 08 Desember 2013 - 19:23:49 WIB
Proyek 10 Ribu MW Mangkrak, PLN Ketagihan Minum Solar
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita 2013 - Dibaca: 8753 kali

RMOL.Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkit Perusahaan Listrik Negara (PLN) 2012 melonjak dari target. Dugaan ada peran mafia BBM di perusahaan pelat merah itu kembali menguak.

Dalam paparan di Komisi VII DPR, PLN menyatakan konsum­si BBM pada 2012 mencapai 8,2 juta kiloliter (KL) atau 12,3 per­sen di atas target yang telah ditetapkan sebesar 7,3 juta kiloliter.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menilai PLN sangat boros menggunakan BBM seperti solar untuk pembangkitnya. Padahal masih banyak sumber-sumber energi alternatif lain seperti gas dan batubara. “Sa­yang­nya itu belum dimaksi­mal­kan semuanya,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut dia, memang tidak mudah mengganti kebiasaan menggunakan BBM ke gas. Bahkan, sulit menutup mata soal dugaan ada mafia BBM untuk pembangkit di PLN. “Penggu­naan BBM ini sudah lama dila­kukan, kemungkinan ada yang bermain. Dalam tanda kutip pasti ada,” ungkap Mamit.

Dia juga menilai, terlambatnya pembangunan proyek 10 ribu megawatt yang rencananya menggunakan energi baru dan ter­barukan sulit direalisasikan. Padahal, kebijakan ini untuk  melepas ke­tergantungan PLN terhadap BBM.

Sebab, menurut Mamit, jika proyek itu jadi maka sebagian pihak yang selama ini bermain BBM di PLN akan terganggu. Karena itu, untuk mengantisipasi adanya permainan tersebut, transparansi kebutuhan BBM untuk pembangkit harus dilaku­kan, sehingga kebutuhan untuk pembangkit ketahuan per harinya dan lonjakan penggunaan bensin bisa ditekan.

Selain itu, pemerintah juga harus cepat membangun infra­struk­tur dan memenuhi pasokan gas untuk PLN. “Jika itu bisa dipe­nuhi tidak ada lagi alasan bagi PLN untuk tetap menggu­nakan BBM tersebut,” katanya.

Anggota Komisi VII DPR Dewi Aryani menambahkan, konsumsi BBM untuk pem­bang­kit PLN akan terus berlanjut selama belum ada pembaharuan jenis pembang­kit. Karena itu, po­litisi PDIP ini mendorong pem­bangunan pem­bangkit berbasis gas atau sumber energi alternatif lainnya.

Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Bambang Dwi­yanto yang dikonfirmasi Rakyat Merdeka membantah adanya du­ga­an mafia yang bermain di pe­ru­sahaannya. “Tidak ada mafia BBM untuk pembangkit,” tegasnya.

Bahkan, kata dia, saat ini jum­lah pembangkit yang meng­gunakan BBM sudah berkurang. “Saat ini tinggal 15 persen. Se­dangkan pembangkit listrik batubara terus naik dan saat ini su­dah 51 persen dan akan terus naik. Tidak benar adanya mafia BBM,” katanya.

Dia lantas mengatakan, melon­jak­nya konsumsi BBM untuk pem­bangkit yang melebihi target ter­jadi karena pertumbuhan pen­jualan listrik yang ditargetkan 7 per­sen pada 2012. Namun, ternyata tum­buh sampai 10 persen. 

Faktor lainnya yakni belum ter­lambatnya penyelesaikan proyek 10 ribu megawatt. Saat ini rasio elektrifikasi terus naik seiring pertumbuhan perekonomian.  

Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengatakan, angka pemakaian BBM 2012 lebih rendah dari realisasi 2011 yang mencapai 11,4 juta KL. Pema­kaian BBM tahun lalu turun 3,2 juta KL dibanding 2011.

Dirjen Ketenagalistrikan Ke­men­terian Energi dan Sumber Da­ya Mineral (ESDM) Jarman me­ngatakan, konsumsi BBM untuk pembangkit PLN pada 2013 ditargetkan turun 1,5 juta KL dari tahun sebelumnya yang sebesar 8,2 juta. Penurunan konsumsi BBM terjadi karena PLN mengganti bahan bakar dengan menggunakan gas, batubara dan energi baru terbarukan (EBT).

Sebelumnya, Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan (Kemen­keu) Herry Purnomo juga me­min­ta perusahaan listrik itu mengu­rangi ketergantungan kepada BBM karena akan ber­dampak melon­jaknya anggaran subsidi.

Menurut Herry, pengurangan beban akibat subsidi listrik tidak semata-mata dengan cara me­naikkan tarif tarif dasar listrik (TDL). Di samping melakukan upaya penurunan subsidi, PLN juga harus mengikuti kebijakan-kebijakan terkait penggunaan bahan bakar.




0 Komentar :