Energi BioGas Dan Pemanfaatannya Dalam Kehidupan Sehari-hari

energywatch.co.id – Jumlah cadangan minyak bumi yang dimiliki Indonesia adalah sebesar 3,6 miliar barel dengan angka produksi di 288 juta barel per tahunnya. Cadangan lain yang dimiliki adalah gas sebesar 98 triliun kaki kubik (tcf) dengan produksi 3 tcf per tahunnya. Untuk batubara masih tersedia 32,4 miliar ton batubara yang diproduksi 393 juta ton tiap tahunnya. Sehingga berdasarkan data tersebut, dapat diprediksi cadangan energi Indonesia untuk minyak bumi akan habis dalam waktu kurang lebih 30 tahun. Sedangkan cadangan batubara masih bisa bertahan hingga 100 tahun lagi.

Ada dua alternatif menyikapi kondisi cadangan energi yang makin menipis yaitu dengan mencari cadangan minyak baru dengan menggunakan teknologi canggih dan tentunya membutuhkan dana yang besar. Alternatif lainnya adalah dengan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) dengan potensinya yang besar yang dimiliki Indonesia. Misalnya potensi panas bumi Indonesia mencapai 29.544 megawatt (MW) dan baru dimanfaatkan sebesar 1.490,4 MW. Sedangkan potensi sinar surya besarnya mencapai 532.579 MW yang baru dimanfaatkan hanya 16 MW.

pemanfaatan biogas dalam kehidupan

Selain satu energi baru terbarukan, energi biogas yaitu gas yang dihasilkan melalui aktivitas anaerobic/fermentasi yang berasal dari bahan-bahan organik seperti kotoran manusia dan hewan, limbah rumah tangga, limbah organik atau biodegradable dalam kondisi anaerobik. Biogas memiliki kandungan utama metana dan karbon dioksida yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan atau sebagai sumber penghasil listrik.

Biogas dalam penggunaannya mirip dengan gas bumi yaitu disalurkan melalui jaringan gas, pembangkit listrik, pemanas air dan pemanas ruangan. Kompresi biogas dapat menggantikan gas alam terkompresi yang digunakan pada kendaraan atau yang dikenal dengan CNG.

Dalam perkembangannya penerapan gas pertama kali dilakuan melalui program Biogas Rumah Biru  yang merupakan Kerjasama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Belanda dan Norwegia untuk pembuatan reactor biogas di 9 provinsi di Indonesia, yaitu:

  1. Desa Cabbeng Bone, Sulawesi Selatan 

Di desa ini telah dikembangkan 30 alat pengolah limbah yang berasal dari kotoran ternak mereka. Kehadiran alat di desa yang memiliki luas 6,8 kilometer tealh membantu warga mengolah kotoran ternak yang mudah didapatkan menjadi sumber energi untuk memasak utamanya. Hanya dengan kotoran dari dua ekor ternak sapi, memberikan energi untuk memasak selama 8 jam.

Selain mengembangkan biogas untuk sumber energi utama kebutuhan rumah tangga warga desa, ampas dari pengolahan biogas masih bisa dimanfaatkan untuk pupuk organic setelah sebelumnya dikeringkan terleih dahulu. Alat pengolahan limbah ini merupakan bantuan dari Badan Lingkungan Hidup yang digunakan sejak tahun 2013 lalu.

  1. Desa Penyabangan, Bali

Di desa ini, sebanyak 44 rumah warga telah menggunakan energi biogas ini. mayoritas warga adalah petani sehingga menggunakan kayu bakar yang dicari di hutan untuk bahan bakar memasak. Dengan diaplikasikannya program BIRU di desa ini, Sebagian warga mulai meninggalkan kayu bakar dan beralih menggunakan biogas.

Dengan mengolah kotoran hewan ternak menjadi biogas sejak tahun 2011, warga desa tidak terlalu terpengaruh dengan fluktuasi harga minyak dan elpiji. Kebutuhan energi untuk memasak mereka dapatkan dari energi biogas.

Baca Juga : Smarthome dan Hemat Energi

  1. Desa Medowo, Kediri

Berada di kaki gunung Anjasmoro yang berhawa sejuk, warga Desa Medowo umumnya berprofesi sebagai peternak sapi perah. Tentu saja, mereka banyak menghasilkan kotoran sapi sebagai bahan baku energi biogas.

desa medowo kediri memanfaatkan biogas

Semula faktor biaya menjadi kendala karena mereka mengira pembuatan pengolah biogas akan membutuhkan biaya besar. Namun setelah diyakinkan bahwa biaya yang dibutuhkan tidak semahal yang diperkirakan, warga desa mulai tertarik untuk menggunakannya. Sejalan dengan manfaatnya, warga mulai merasakan dampak positif dari energi biogas. Selain mengolah kotoran hewan sapi sehingga menghasilkan energi untuk kebutuhan rumah tangga, program ini membantu mengurangi pencemaran air yang biasa terjadi di kampung peternak. Kotoran sapi tidak lagi berceceran di sungai dan pencemaran turun hingga 90 persen.

  1. Desa Argosari Malang

Kompor berbahan bakar biogas telah mampu menurunkan perusakan hutan oleh warga desa untuk diambil kayunya. Warga cukup menghidupkan kompor dan hutan mereka bisa terjaga kelestariannya. Sekaligus mengubah pola pikir warga untuk melindungi pepohonan dari penebangan liar sekaligus menanami lahan yang gundul akibat penebangan di masa lalu sebelum adanya proyek energi biogas ini. dengan hutan yang terjaga, sumber air desa pun ikut terjaga yang membantu mereka terhindar dari kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan.

  1. Pasuruan

Salah satu kabupaten di Jawa Timur ini pun mendapatkan kesempatan menjadi proyek percontohan energi biogas. Di wilayah ini ada 100 persen warga desa dari 4 desa yang telah memanfaatkan energi biogas untuk kebutuhan dan aktivitas memasak.

Bekerjasama dengan koperasi setempat, penggunaan energi biogas membuat warga desa tersebut tidak lagi menggunakan kayu bakar yang biasa diambil dari hutan atau menggunakan elpiji yang harganya terus meningkat. Desa-desa tersebut adalah Desa Cemoro, Desa Kumbo, Desa Gunung Sari, dan Desa Ngempiring. Penghematan dari penggunaan elpiji bahkan nilainya setara degna 400 ribu per bulannya.

Keberhasilan penerapan energi biogas ini tidak selalu berjalan mulus. Di awal program banyak kendala yang dihadapi tim di lapangan. Mulai dari kendala kultur masyarakat dengan mitos yang berkembang menjadi penghalang utama. Namun dengan komunikasi Bersama tokoh masyarakat desa dan keterbukaan proses, membuat warga desa sedikit demi sedikit memahami manfaat energi biogas ini.

Kendala lainnya justru berasal dari pemerintah yang tidak melakukan persiapan maksimal berupa survey terhadap bahan baku kotoran di desa yang akan dijadikan proyek percontohan. Juga pelatihan yang cukup agar warga desa memiliki pengetahuan yang memadai dalam pembuatan biogas ini yang minimal membutuhkan delapan hari pelatihan.

 

Share

You may also like...