Faktor Penyebab Pertamina Mengalami Kerugian

energywatch.co.id – Sempat ramai dibicarakan dan menjadi trending di salah satu media sosial, perusahaan Badan Usaha Milik Negara  (BUMN) itu mengalami kerugian yang cukup besar. Tepatnya adalah PT Pertamina. Ini adalah perusahaan minyak dan melayani segala kebutuhan minyak dalam negeri baik dari BBM dan kebutuhan lainnya. 

Perusahaan yang memiliki sumbangsih tinggi terhadap negara ini mengalami kerugian, hal ini karena ada beberapa hal yang sedang melanda Indonesia dan dunia. Selain itu, ada banyak faktor yang mempengaruhi dan membuat banyak sektor mengalami kerugian di tahun 2020 ini. Untuk lebih lengkapnya, Anda dapat menyimak beberapa hal dibawah ini. 

Faktor Penyebab Kerugian 

Beberapa minggu yang lalu, perusahaan plat merah ini memberikan laporan mengenai kerugian bersih yang dialami oleh PT Pertamina Persero tersebut. Berdasarkan laporan tersebut, perusahaan BUMN itu mengalami kerugian sebesar USD 767,92 atau berkisar 11,2 Triliun Rupiah di semester 1 tahun 2020. Hal serupa juga terjadi pada tahun 2019 dan periode sama, Pertamina mengalami kerugian bersih mencapai USD 659,96 atau 9,6 Triliun rupiah. Setelah mengetahui jumlah kerugiannya, lantas apa sih penyebabnya?Berikut ini pembahasan lengkapnya, sebagai berikut :

Konsumsi BBM Berkurang

Memasuki bulan Maret 2020 sampai sekarang Indonesia masih terus berperang melawan virus covid 19 ini dan terus memakan korban. Dengan banyak korban tersebut, pada saat awal terjadinya dan besarnya penyebaran yang membuat orang terinfeksi membuat negara membatasi pergerakan masyarakatnya. Hal ini dikenal dengan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) atau di negara lain menerapkan lockdown. 

pertamina mengalami kerugian

Selama masa ini terjadi dan berlangsung selama berbulan-bulan, pemerintah menghimbau masyarakat untuk terus berada dirumah dan tidak bepergian kalau bukan mendesak. Hal inilah membuat konsumsi Bahan Bakar Minyak mengalami penurunan yang signifikan.  

Sebelumnya, Pertamina mencatat penurunan ini sampai 60 persen di beberapa kota, dalam laporannya Juni 2020 Pertamina mencatat untuk kebutuhan atau konsumsi BBM hanya 117 ribu kilo liter per hari yang menurun sebanyak 13 persen dibandingkan pada tahun 2019. 

Turunnya Penjualan Dalam Negeri

Dalam laporan yang di publish ke masyarakat itu memberitahukan bahwa terjadinya penurunan penjualan yang dilakukan didalam negeri. Hampir sekitar USD 5 miliar Pertamina mengalami kerugian, dulunya masih di level USD 25,55 menjadi USD 20,48 miliar. Penurunan ini terjadi karena terdapat banyak penurunan penjualan di berbagai sektor usaha yang dimiliki. Baik itu Minyak Mentah, Panas Bumi, Gas. Kegiatan ini berdampak pada penurunan yang sampai pada titik 20,91 persen atau dengan nilai USD 16,56 miliar. 

Baca Juga : Menelaah Mobil Listrik Dalam Aspek Kelebihan, Kekurangan, dan Kehematan Finansial

Meningkatnya Beban Perusahaan

Sebelumnya perusahaan minyak terbesar di Indonesia ini untuk biaya operasional sebesar USD 803,7 juta dan sekarang menjadi 960,98 juta. Hal lainnya mengenai beban pokok penjualan dan beban langsung yang sebelumnya di level USD 21,98 miliar turun pada level USD 18,87 miliar. 

Produksi dan Lifting Mengalami Peningkatan

Tidak adanya penjualan yang besar di dalam negeri membuat beban operasional menjadi boomerang yang membuat Pertamina mengalami kerugian. Proses produksi tidak bisa dihentikan dan terus berlanjut, membuat usaha harus tetap berjalan, walaupun permintaan didalam masyarakat tidak terlalu tinggi. 

Hal ini menjadi dilema tersendiri untuk Pertamina dan kerugian memang tidak bisa untuk dihindari. Hal lain yang menyebabkan Pertamina mengalami kerugian dikarenakan produksi terus berlanjut dan tidak bisa dihentikan. Dulunya hanya USD 2,38 miliar menjadi 2,43 miliar. 

Ada Selisih Kurs Dolar

Salah satu hal yang paling mempengaruhi dan mempunyai kontribusi besar dalam kerugian Pertamina adalah selisihnya kurs yang sangat tinggi dan mencapai 3 kali lipat pada tahun sebelumnya. Kurs sekarang berada pada level USD 211,83 juta dibandingkan 2019 hanya pada level 64,59 juta.

selish dollar

Bahkan, pihak Pertamina mengakui bahwa terjadinya kerugian disebabkan oleh tiga faktor. pertama, turunnya harga minyak mentah dunia. Kedua, adanya penurunan konsumsi BBM yang signifikan dalam negeri. Ketiga, terjadinya selisih kurs. 

Turunnya Laba Kotor

Seharusnya walaupun pokok penjualan dan beban yang lainnya mengalami penurunan, untuk laba kotor sebenarnya tidak akan mengalami penurunan. Namun, pada tahun ini laba kotor yang terjadi pada Pertamina mengalami penurunan yang sangat tinggi, bahkan mencapai 5,05 persen atau dalam USD berkisar 1,60 miliar. 

Penutup

Dengan begitu, walaupun mengalami kerugian yang besar pada semester I, pihak Pertamina dan pemerintah tetap optimis mendapatkan laba atau keuntungan diakhir tahun 2020. Setelah pemerintah melonggarkan beberapa aktivitas dan mengajak masyarakat menghadapi adaptasi kebiasan baru (AKB), membuat pergerakan masyarakat menjadi lebih tinggi dan kebutuhan akan BBM mengalami peningkatan, sehingga ekonomi tetap bisa berjalan. 

Meski demikian, selama pandemi ini pihak Pertamina tetap memberikan pelayanan yang optimal dengan terus melakukan operasionalnya. SPBU tetap selalu dibuka dan pendistribusian LPG ke masyarakat terus berlangsung. Hal ini untuk keperluan dan kebutuhan masyarakat untuk menggunakan energi dalam negeri. 

Share

You may also like...